Sains

Streptomyces : Bakteri Mirip Fungi Penghasil Aroma Khas Tanah

Streptomyces : Bakteri Mirip Fungi Penghasil Aroma Khas Tanah

Ketika kita pergi ke suatu kebun, padang rumput, ladang, persawahan atau jalanan yang masih belum di aspal maka kita akan mencium aroma khas tanah. Aroma tersebut akan semakin kuat setelah turun hujan. Sebenarnya aroma yang kita cium tersebut merupakan aroma dari suatu senyawa volatil yang dihasilkan oleh suatu bakteri yang keberadaannya sangat melimpah di tanah. Senyawa volatil khas pada tanah tersebut merupakan aroma geomycin. Geomycin dihasilkan oleh kelompok bakteri yang mirip fungi yang disebut Streptomyces.

Bèrdy J. 2005. Bioactive microbial metabolites: a personal view. J Antibiot. 58:1-26. Goodfellow M, Simpson KE. 1987. Ecology of Streptomycetes. Front Appl Microbiol. 2: 97125. Suwanto A. 1994. Evolusi mikrobe dan kaitannya dengan sistematik mlekuler.Hayati vol. 1 No. 2. Volk WA dan Wheeler MF. 1988. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Jakarta (ID): Erlangga.

Streptomyces merupakan kelompok bakteri penghasil antibiotik terbesar yang keberadaannya sangat melimpah di tanah. Selain mampu menghasilkan antibiotik, kelompok bakteri ini juga diketahui mampu menghasilkan senyawa lain seperti antiinflamasi, antiviral, pigmen dll. Menurut Berdy (2005), sekitar 45% dari senyawa bioaktif yang berasal dari mikroba dihasilkan oleh aktinomiset . Selanjutnya, Goodfellow dan Simpson (1987) menyatakan bahwa 75% senyawa bioaktif yang berasal dari aktinomiset dihasilkan oleh genus Streptomyces. Senyawa bioaktif adalah senyawa kimia yang memiliki aktivitas biologis. Karena kemampuannya yang dapat menghasilkan berbagai senyawa bioaktif membuat kelompok bakteri ini merupakan bakteri yang sangat penting dalam industri farmasi. Saat ini peneliti masih terus mencari senyawa bioaktif yang berasal dari kelompok bakteri ini dikarenakan keragamannya yang sangat melimpah.

Fungsi senyawa bioaktif bagi Streptomyces yaitu sebagai alat pertahanan dalam lingkungannya. Selain digunakan sebagai mekanisme pertahanan, senyawa bioaktif yang dihasilkannya digunakan untuk berkompetisi baik dalam hal memperoleh nutrisi maupun ruang. Selain dalam bidang farmasi, Streptomyces juga telah banyak digunakan dalam bidang pertanian. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa, kelompok bakteri ini banyak ditemukan di daerah sekitar perakaran. Keberadaan Streptomyces di daerah perakaran terutama pada tanaman perkebunan sangat menguntungkan karena mampu mengurangi populasi fungi maupun bakteri pathogen. Hal tersebut tentu saja dikarenakan, senyawa bioaktif yang dikeluarkannya ke lingkungannya.

Sekilas jika kita melihat Streptomyces dalam medium agar maka akan sulit membedakannya dengan kapang, kecuali jika diikuti pengamatan lebih lanjut. Bahkan pada sistem sistematika pada zaman dahulu, kelompok bakteri ini dimasukkan ke dalam kingdom fungi. Hal tersebut dikarenakan penampakannya yang mirip fungi seperti memiliki hifa, miselia aerial, bahkan juga menghasilkan konidia spora. Tidak seperti bakteri pada umumnya, bakteri ini memiliki warna yang sangat beragam, beberapa diantara jika kita tumbuhkan pada medium agar akan memiliki warna yang berbeda pada bagian atas dan bawahnya. Persamaan lain Streptomyces dengan fungi yaitu petumbuhannya yang sangat lambat. Meskipun memiliki banyak persamaan dengan fungi, Streptomyces dikelompokkan ke dalam kingdom prokariot. Hal tersebut akan terlihat jika kita membandingkan analisis materi genetiknya terhadap fungi. Seperti yang dinyatakan oleh Prof. Antonius Suwanto dalam artikelnya yag berjudul ”Evolusi Mikrobe dan Kaitannya dengan Sistematik Molekuler” bahwa jarak evolusi antara organisme-organisme yang mirip secara fenotipe atau penampakkan ternyata sangat jauh.

Meskipun terlihat seperti fungi, Streptomyces memiliki karakter yang dimiliki oleh bakteri namun tidak dimiliki oleh fungi. Menurut Volk dan Wheeler (1998), karakter yang membedakan Streptomyces dengan fungi antara lain yaitu dinding selnya mengandung asam muramat, tidak memiliki mitokondria, mengandung ribosom 70S, tidak memiliki pembungkus nukleus dan diameter selnya 0,5-2,0 μm. Hal yang paling mudah membedakannya dengan fungi adalah Streptomyces tidak mati jika diberi antifungi namun akan mati jika diberi antibakteri.

Sumber :

Bèrdy J. 2005. Bioactive microbial metabolites: a personal view. J Antibiot. 58:1-26.
Goodfellow M, Simpson KE. 1987. Ecology of Streptomycetes. Front Appl Microbiol. 2: 97125.
Suwanto A. 1994. Evolusi mikrobe dan kaitannya dengan sistematik mlekuler.Hayati vol. 1 No. 2.
Volk WA dan Wheeler MF. 1988. Mikrobiologi Dasar Jilid I. Jakarta (ID): Erlangga.