Tidak berperasaan
Kalau biasanya kamu sering dengar istilah baper atau bawa perasaan, berbeda dengan yang satu ini. Ia justru tidak berperasaan. Alih-alih mudah sedih, suka ataupun melting karena kata-kata puitis nana romantis, dia malah kurang paham dengan apa yang sedang terjadi. Mungkin mirip-mirip dengan kaum melankolis vs pragmatis. Begitulah dengan orang-orang yang tidak berperasaan karena kekurangan suatu hormon.
Kamu pasti sudah tahu bahwa ada beberapa hormon yang memang mempengaruhi perasaan yang berimbas pada proses sosial seseorang. Setidaknya ada beberapa gambaran perasaan yang berkaitan dengan proses sosial seperti sugesti, motivasi, simpati dan empati.
Baca : Bagaimana Hormon Oksitosin Membuat Ibu Merespon Kebutuhan Anak??
Studi menemukan hubungan antara kadar hormon oksitosin dengan gangguan kesehatan medis dan psikologis. Sebuah penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa pemberian oksitosin dapat menginduksi berbagai perilaku positif, termasuk lebih sehat. Bukan hanya itu saja, peneliti juga menemukan bahwa kekurangan hormon yang dikenal sebagai ‘hormon cinta’ ini dapat mengganggu rasa empati seseorang.
Memang belum banyak penelitian terkait hubungan pelepasan hormon oksitosin dengan berkurangnya rasa empati pada diri seseorang. Namun Katie Daughters, mahasiswa dari University of Cardiff melakukan riset dan mengungkap hubungan antara rendahnya kadar oksitosin dengan gangguan kesehatan medis dan psikologis.
Dalam percobaannya ini, Katie melibatkan 20 orang dengan diabetes insipidus kranial (CDI) yang merusak hipotalamus, 15 orang hipoptuitarisme (ganguan pada kelenjar pituitari dalam melepaskan hormon) dan 20 orang sehat. Sebagaimana diketahui bahwa hormon oksitosin dihasilkan oleh hipotalamus dan kelenjar pituitari sebagai tempat penyimpanan untuk hipotalamus. Sehingga gangguan pada kedua organ ini pasti akan berefek pada produksi hormon oksitosin.
Baca : Orang Yang Sering Tidur Lebih Larut Biasanya Lebih Cerdas
Ukuran sampel memang terbilang masih kecil dan hasil percobaan ini belum dipublikasikan. Namun orang-orang yang menderita gangguan pada organ hipotalamus seperti penderita CDI ternyata kurang mampu mengenali ekspresi wajah atau menafsirkan emosi seseorang yang ada dihadapan mereka. Hal tersebut seakan mendukung teori bahwa kekurang-mampuan memproduksi hormon oksitosin akan mengurangi rasa empati seseorang.
Baca Juga: