Tidak Hanya Orang Dewasa, Bayi Juga Mengalami Stroke !
Stroke terjadi ketika suplai darah ke bagian otak terhenti. Stroke merupakan hal yang umum terjadi pada usia tua. Namun kenyataannya, kejadian yang sangat berbahaya tersebut juga menyerang bayi. Diperkirakan lebih dari 4.000 bayi mengalami stroke tepat sebelum, ketika, atau setelah kelahiran. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena proses kelahiran penuh tekanan dan perubahan drastis dari sirkulasi darah ibu ke bayi. Stroke pada bayi selama kehamilan hingga 28 hari setelah kelahiran dikenal sebagai stroke iskemik perinatal. Stroke pada bayi biasanya disebabkan oleh gumpalan yang terlepas dari plasenta dan berdiam pada otak anak, atau karena kelainan penyumbatan darah yang dimiliki bayi atau ibunya. Stroke pada beberapa minggu pertama setelah kelahiran biasanya terlewatkan dan hanya terlihat ketika seorang anak tidak tumbuh seperti yang diharapkan atau menunjukkan kelemahan pada satu sisi. Beberapa anak, terutama bayi yang baru lahir, mungkin tidak menunjukkan gejala apapun. Pada bayi berusia hingga 28 hari, kejang merupakan gejala umum stroke. Meskipun demikian, bayi berbeda dengan orang dewasa. Bayi yang mengalami stroke pada area otak yang berhubungan dengan bahasa tetap dapat mempertahankan kemampuan untuk berkomunikasi. Para peneliti menemukan bahwa sebagai remaja, individu yang mengalami stroke pada saat kelahiran mampu memahami bahasa seperti remaja lainnya yang sehat.
Penelitian mengenai stroke pada bayi ini dipresentasikan pada konferensi tahunan American Association for the Advancement of Science (AAAS) di Austin, Texas. Untuk mencari tahu bagaimana orang dewasa yang mengalami stroke saat bayi mengompensasi kerusakan otak yang parah, tim peneliti menggambarkan otak mereka saat mereka mendengarkan kalimat yang dibaca maju dan mundur. Penelitian yang dilakukan melibatkan 12 penderita stroke perinatal dengan rentang usia 12-25 tahun. Studi kasus memiliki beberapa indikator bahwa mereka pernah mengalami stroke. Ada peserta yang pincang, dan banyak peserta yang telah belajar untuk membuat tangan kirinya dominan karena stroke yang menyerang fungsi tangan sebelah kanan. Meskipun demikian, mereka memiliki kemampuan bahasa yang baik.
Elissa Newport, seorang professor neurologi dan direktur dari Centre for Brain Plasticity and Recovery di Georgetown University memimpin studi ini. Pada orang dewasa yang sehat, tes ini menyebabkan area pengolahan bahasa di sisi kiri otak menyala dengan aktivitas (digambarkan di atas sebelah kiri). Sementara itu pada penderita stroke yang telah kehilangan jaringan otak di wilayah tersebut, aktivitas telah bergeser ke area di belahan kanan yang merupakan gambar cermin dari daerah bahasa normal (gambar kanan atas). Bagian belahan kanan ini hampir tidak pernah digunakan oleh orang-orang sehat untuk memahami bahasa, dan orang dewasa yang telah mengalami stroke tidak memperolehnya untuk proses berbicara.
Newport mengatakan bahwa otak-otak yang masih muda bersifat sangat plastis, yang berarti dapat melakukan relokasi bahasa ke area yang sehat. Tetapi, hal tersebut bukan berarti area-area baru dapat ditemukan dengan tak sengaja di sebelah kanan. Diyakini bahwa ada suatu kendala yang sangat penting di mana fungsi tersebut dapat direlokasi. Ada daerah-daerah spesifik yang dapat mengambil alih ketika suatu bagian otak terluka, tergantung pada fungsi tertentu.
Hasil menunjukkan bahwa otak bayi-bayi berkembang saat mereka mengalami stroke dan mereka mampu beradaptasi. Para periset menduga bahwa bayi mendapatkan keuntungan dari jendela unik selama pengembangan ketika otak masih cukup fleksibel untuk membuat akomodasi seperti itu. Tiap fungsi, seperti kemampuan bahasa dan spasial, memiliki daerah tertentu yang dapat mengambil alih jika area otak yang utama terluka. Dengan mencari tahu apa yang memungkinkan elastisitas tersebut, para peneliti dari Georgetown University berharap untuk dapat menemukan cara untuk membantu penderita stroke yang berusia dewasa untuk memperoleh kemampuan bicara dan memahami bahasa. Penelitian ini sekarang sedang diperluas ke kelompok yang lebih besar, dan akan melihat apakah fungsi selain bahasa mengalami relokasi dan di mana relokasi tersebut terjadi.
Sumber: sciencemag.org